By: TANTY INTAN PRATIWI

G74100078

Sekitar 20 tahun yang lalu di dunia ini terlahir seorang anak lelaki dan diberi nama Denny Prasetia oleh kedua orang tuanya, ya dialah kakak kandungku.

Sebagai seorang kakak bagiku dan seorang anak sulung, dia sangat berarti dalam hidupku. Semenjak perpisahan yang terjadi antara kedua orang tuaku saat beberapa tahun lalu, tepatnya saat kakakku duduk di bangku sekolah kelas IV SD dan aku di kelas II SD. Dia menjadi seorang anak yang sangat mandiri dan keras kepala, segala yang dia inginkan mesti dan harus di turuti.

Kami (aku dan kakakku) tinggal bersama ibu kami di rumah sederhana milik kami tanpa seorang ayah. Kakakku sangat jarang di rumah, dia lebih sering menghabiskan waktu luangnya di luar bersama teman-temannya.

Ya, semenjak tak ada ayah, hidup kami sedrehana dan biaya sekolah kami oleh kakek dibiayainya. Dan walaupun kakakku lumayan galak, tapi dia baik juga karena sering mengalah padaku sebagai adiknya meski kadang-kadang (hehe). Karena pernah bahkan sering, dia mengalah tidak meminta ongkos ke sekolah karena ibu kami tidak punya uang, dia malah memilih uang itu diberikan padaku, sedangkan dia sendiri nebeng berangkat dan pulang sekolah pada temannya yang membawa motor. Bahkan dia juga sering tidur di mesjid sekolah atau di rumah temannya yang jaraknya dekat ke sekolah hanya karena untuk tidak memberi beban pada ibu masalah ongkos sekolah. Dan itulah yang membuatku bangga kepada kakakku. Bahkan dia pernah kerja jaga warnet untuk mendapatkan uang untuk ongkos kami tiap hari ke sekolah, dia juga pernah menggambar graffiti di bengkel-bengkel dan berkat bakatnya dalam menggambar dia juga mendapatkan uang untuk memenuhi keperluannya.

Kebetulan dari TK sampai SMA kami bersekolah di sekolah yang sama. Selain itu, di sekolah juga dia termasuk anak yang aktif. Misalnya saja yang masih aku ingat adalah, dia pernah jadi pengurus OSIS dan saat dia kelas X dia pernah menjadi ketua pelaksana dalam lomba bola voli antar SMP/MTs sederajat di Kab. Kuningan yang diadakan dalam rangka memperingati ulang tahun sekolah kami.

Dia juga pernah berturut-turut menjabat sebagai ketua umum PA (Pecinta Alam) selama 2 periode, bahkan dia sering naik turun gunung untuk melepaskan segala kepenatannya mengenai keluarga dan masalahnya di sekolah. Dia juga pernah menjadi pendiri adanya FM di sekolah kami, bahkan dia juga pendiri sekaligus ketua ekstrakurikuler Seni Rupa di sekolah kami, dan yang membuat semuanya bangga adalah ekstrakurikuler ini di resmikan sendiri oleh bupati Kuningan (H. Aang Hamid Suganda, SH) dan beda dengan ekstrakurikuler lainnya yang tidak di resmikan oleh orang terpenting nomor 1 di Kab. Kuningan.

Saat SMA aku pernah malu punya kakak seperti dia karena kerjaannya yang sering sekali mengadakan demo ke sekolah, bahkan kepada kepala sekolah. Dia sangat berani untuk mengungkapkan hal yang sangat tidak dia sukai. Satu kalimat yang pernah dia katakan pada kepala sekolah kami adalah bahwa “kepemimpinan seseorang tidak harus ditunjukkan dengan kekerasan”. Dia mengatakan hal itu karena setiap murid yang melanggar itu pernah langsung dicubit atau dijewer, padahal menurutnya mestinya diberi teguran dulu, karena masa SMA inginnya bebas sekehendak sendiri dan masa transisi dari anak remaja menjadi dewasa. Dan sejak saat itu kepala sekolah tidak pernah menyapa kakakku sampai 2 minggu, tapi setelahnya beliau menyapa lagi dan lebih akrab pada kakakku dan satu hal lagi, beliau tidak terlalu galak lagi pada anak-anak.

Keluar SMA dia diterima di STIKES MAHARDIKA di Cirebon jurusan Kesehatan Masyarakat, ya meskipun dia tadinya IPS tapi dia keterima di STIKES dan mendapat beasiswa. Tapi saat keluar SMA juga dia mendaftar menjadi anggota WANADRI (Perhimpunan Para Pendaki Gunung dan Penempuh Rimba). Kebetulan juga dia lolos berbagai macam seleksi, dia lebih memilih masuk WANADRI yang pendidikannya selama 1 bulan dan sangat berat seperti pendidikan tentara. Itu karena kecintaannya pada alam dan hobinya dibandingkan dia harus pusing-pusing memikirkan kuliah, dia juga tidak mau merepotkan orang tua mengenai biaya dan takutnya biayanya bentrok dan tambah besar saat aku kuliah nanti karena setelah aku kelas XII SMA kakekku yang membiayai hidup kami dan sekolah kami meninggal.

Dari sanalah dia berusaha untuk tidak merepotkan ibuku, baginya ibu adalah orang yang sangat berarti jasanya dalam hidupnya. Dia berusaha untuk terus hidup mandiri tanpa membebankan orang lain. Dia sering naik turun gunung, masuk keluar hutan untuk mencari orang yang hilang ataupun orang yang tersesat. Tapi saat dia jadi tim SAR, jika kebetulan dia yang menemukan orang yang dicari, dia tak pernah mau menyebutkan namanya, tapi dia bilang kalau dia tim SAR  bantuan.

Sampai saatnya dia harus meninggalkanku dan semua orang yang mencintainya tepatnya 6 Maret 2010, dia berpulang ke rahmatullah untuk selamanya. Ya dia telah meninggal dalam tugasnya, dalam pengabdiannya pada masyarakat luas.

Aku yang masih tidur saat itu tanggal 7 Maret 2010 terbangun karena ibuku membangunkanku yang pada saat itu ada tamu yaitu lurah di tempatku tinggal da 2 orang senior PA kakakku saat SMA, walaupun masih sedikit terpejam mataku tapi aku tetap hapal ma mereka, dan sejak saat itu perasaanku tak karuan karena aku sudah curiga ada sesuatu yang terjadi pada kakakku. Dan ternyata benar, mereka memberitahuku bahwa kakakku telah meninggal karena tersambar petir saat menjalankan tugasnya di Gunung Wayang.

Pantas saja saat kemarin sore hujan membasahi bumi dan disertai petir, saat menjelang magrib aku ingin sekali menghubungi handphone kakakku untuk memberitahukan kalau aku diberi hadiah handphone baru karena lolos USMI, tapi sayangnya handphone kakakku tidak aktif. Dan saat ada petir yang lumayan sangat besar dan menakutkan bagiku dan ibuku, tiba-tiba dari cahaya petir itu……..aku seperti melihat kakakku dan dia tersenyum padaku.

Awalnya aku biasa saja, tapi setelah dipikir-pikir sekarang “Apakah wujud kakakku yang waktu itu kulihat dari cahaya petir adalah kakakku???” “Mungkin iya, menurutku mungkin saat itu kakakku pamit kalau dia akan pergi untuk selamanya, karena menurut temannya yang selamat saat kejadian yang tragis itu terjadi kira-kira menjelang magrib juga.”

Sampai saat ini, aku masih teringat tentangnya, kegigihannya, kesabarannya, kepeduliannya, dan rasa tanggung jawabnya sebagai kakak, anak, dan kepala rumah tangga setelah perginya ayahku. Sekarang aku jadi anak tunggal dan aku sendiri yang yang harus meneruskan cita-citanya, impiannya, dan harapannya untuk membahagiakan ibuku, membantu semua orang tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Tak akan pernah kulupa dan akan selalu kukenang kalau aku punya seorang kakak, pahlawanku, dan pahlawan bagi semua orang.

Meskipun tak ada dia, tapi kini teman-temannya, sahabat-sahabatnya, dan kenalannya atau bahkan orang yang tidak dia kenal tapi orang itu mengenalnya hadir mengisi hari-hariku setelah kepergiannya. Mereka juga keluargaku, meskipun bukan saudara sedarah atau sekandung, tapi kita semua sama dimata Tuhan, sama juga keturunan nabi Adam dan Hawa.

Aku akan berusaha untuk lebih baik lagi dan berusaha mencapai cita-cita yang kita inginkan dari dulu, yang kita inginkan saat masih kecil, dan semuanya yang pernah impikan semoga menjadi kenyataan, amin.

Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda

By: TANTY INTAN PRATIWI

G74100078

Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Yup, dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya. Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.”

Ada Seorang pria yang kebetulan lewat di depan anak kecil itu. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa keping uang receh, lalu memasukkannya ke dalam kaleng anak itu. Sejenak, pria itu memandang dan memperhatikan tulisan yang terpampang pada papan. Seperti sedang memikirkan sesuatu, dahinya mulai bergerak-gerak.

Lalu pria itu meminta papan yang dibawa anak itu, membaliknya, dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil tersenyum, pria itu kemudian mengembalikan papan tersebut, lalu pergi meninggalkannya. Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung supermarket mulai mengalir lebih deras ke dalam kaleng anak itu. Kurang dari satu jam, kaleng anak itu sudah hampir penuh. Sebuah rejeki yang luar biasa bagi anak itu.

Beberapa waktu kemudian pria itu kembali menemui si anak lalu menyapanya. Si anak berterima kasih kepada pria itu, lalu menanyakan apa yang ditulis sang pria di papan miliknya. Pria itu menjawab, “Saya menulis, ‘Hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya.’ Saya hanya ingin mengutarakan betapa beruntungnya orang masih bisa melihat. Saya tidak ingin pengunjung memberikan uangnya hanya sekedar kasihan sama kamu. Saya ingin mereka memberi atas dasar terima kasih karena telah diingatkan untuk selalu bersyukur.”

Pria itu melanjutkan kata-katanya, “Selain untuk menambah penghasilanmu, saya ingin memberi pemahaman bahwa ketika hidup memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa masih ada 1000 alasan untuk tersenyum.”

.

Awalnya tak pernah menyangka bisa menjadi seorang mahasiswa IPB,,

tapi mungkin inilah takdir yang harus ku jalani…..

INSTITUT PERTANIAN BOGOR
IPB Badge